Siantar, Armedo.co – Komitmen Indonesia dalam mengejar target transisi energi mendapatkan angin segar dari dunia akademik. David Firnando Silalahi, peneliti muda asal Indonesia, resmi menyandang gelar Doktor (PhD) dari School of Engineering, The Australian National University (ANU).
“Prosesi wisuda berlangsung khidmat pada 30 Januari 2026 lalu di Canberra, Australia, dengan tesis bertajuk 100% Renewable Energy Integration in Indonesia,” tulis Doktor David Firnando Silalahi, Jum’at (20/2/2026).
Menurut putra daerah asal Pematang Siantar, pertengahan Februari 2020, dirinya melangkah mantap memulai studi di ANU. Ada mimpi besar yang dibawa jauh dari tanah air, sebuah misi ilmiah untuk membuktikan bahwa Indonesia, negeri khatulistiwa itu, sanggup hidup sepenuhnya dari energi bersih.
Namun, takdir punya rencana lain untuk menguji ketangguhannya. Baru dua minggu ia duduk di meja risetnya, dunia mendadak sunyi. Australia mengumumkan lockdown total akibat pandemi Covid-19.
Bagi seorang peneliti, data adalah napas. Namun bagi David, pandemi adalah tembok besar. Rencana pengambilan data yang seharusnya berjalan mulus terpaksa membeku. Selama dua tahun, ia bergelut dengan ketidakpastian. Masa studi yang semula ditargetkan 4 tahun, harus rela bergeser menjadi 4,5 tahun karena data lapangan baru bisa ia akses penuh pada 2022.
Namun, di tengah keterbatasan, api semangat penerima beasiswa LPDP tahun 2018 ini justru makin berkobar. Ia terus produktif menulis di jurnal internasional, majalah nasional, serta opini di media massa nasional maupun internasional. David juga tetap aktif melakukan advokasi dan mengisi berbagai forum diskusi transisi energi di tanah air meski terpisah jarak.

“Banyak yang menganggap energi terbarukan itu mahal dan mustahil bagi negara berkembang,” ujar David. “Motivasi saya adalah mematahkan keraguan itu. Saya ingin membuktikan secara ilmiah bahwa Indonesia 100% energi bersih itu bukan sekadar mimpi di siang bolong, melainkan keniscayaan yang logis.”
Perjuangan itu membuahkan hasil manis. David pulang tidak dengan tangan hampa. Ia membawa “harta karun” intelektual bagi Indonesia:
Peta Navigasi Matahari: Identifikasi presisi titik-titik terbaik di seluruh Nusantara untuk memanen energi surya secara optimal.







