Hasilnya, kata warga, tetap tidak ideal dan tidak sesuai standar, karena minyak aspal dan air tidak bercampur baik, serta permukaan dasarnya menjadi lunak. Air hujan menghambat ikatan antara agregat (batu) dan bitumen (aspal).
Dampak negatif lainnya, kata warga, kelembaban pada permukaan dasar (tanah/base course) mengurangi kemampuan aspal untuk menempel dengan baik. Dan minyak aspal bisa naik ke permukaan, mempengaruhi waktu pengeringan dan hasil akhir.
Air yang masuk ke celah celah rongga udara saat aspal baru dihampar, kata warga, akan menyebabkan pekerjaan tidak rapat dan cepat rusak, terkelupas, atau pecah. Jadi, lanjutnya, hujan saat pengerjaan sangat beresiko menurunkan kualitas konstruksi secara signifikan.(ZAI)







