Siantar, Armedo.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar kembali mempertegas perannya sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Hal ini dijelaskan saat melalui agenda Temu media yang digelar di Next Percent Cafe, Jalan Voly, Kota Pematangsiantar, Selasa (17/3/2026).
BI memaparkan potret optimistis sekaligus tantangan ekonomi di wilayah Sisibataslabuhan. Sinergi ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya memperkuat transparansi kebijakan demi menjaga stabilitas ekonomi masyarakat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman mengatakan secara umum, ekonomi Kota Pematangsiantar pada tahun 2025 tetap menunjukkan performa tangguh dengan pertumbuhan sebesar 4,09% (yoy). Meski sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya, geliat ekonomi tetap terjaga berkat kuatnya konsumsi rumah tangga dan dominasi sektor tersier.
“Berdasarkan analisis strategis SLQ dan DLQ, sektor Perdagangan serta Akomodasi, Makan, dan Minum (Akmamin) masih menjadi juara dengan kontribusi PDRB gabungan mencapai lebih dari 34 persen. Menariknya, sektor Konstruksi kini muncul sebagai kekuatan baru atau sektor andalan dengan laju pertumbuhan yang melampaui rata-rata,” ujarnya.
Di sisi lain, BI mencatat tantangan besar pada sektor Industri Pengolahan yang membutuhkan dorongan ekstra agar keluar dari fase stagnasi.
“Di tengah dinamika harga pangan, BI bersama TPID terus berjaga lewat strategi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif (4K). Per Februari 2026, inflasi bulanan Pematangsiantar tercatat di angka 0,57 persen (mtm),” ucapnya.
Kondisi ini didukung oleh sistem keuangan yang sangat sehat. Intermediasi perbankan berjalan stabil dengan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp41,1 triliun. Penyaluran kredit pun tumbuh positif sebesar 4,9 persen (yoy) menjadi Rp36,7 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang sangat terjaga di level 2,3 persen.
Ahmadi menjelaskan salah satu capaian paling impresif adalah lonjakan digitalisasi sistem pembayaran. Hingga awal 2026, nominal transaksi QRIS di wilayah kerja BI Pematangsiantar meroket hingga 252,7 persen (yoy) dengan nilai mencapai Rp465,8 miliar. Saat ini, lebih dari 304 ribu merchant telah mengadopsi QRIS, menandakan inklusi digital yang semakin merata hingga ke level UMKM.
“Untuk menjaga momentum ini, BI menggelar kompetisi strategis (6 Maret – 10 Agustus 2026) bagi perbankan di 8 Kabupaten/Kota untuk memperebutkan hadiah total jutaan rupiah. Targetnya jelas: memperluas akuisisi pengguna baru dan merchant yang selama ini belum terjangkau layanan digital,” jelasnya.
BI tidak hanya bicara angka makro, tapi juga aksi nyata di lapangan. UMKM binaan BI Pematangsiantar di sektor kuliner, kriya, dan fesyen berhasil mencatatkan omzet kolektif Rp2,3 miliar dengan laba bersih menembus Rp600 juta.
Selain itu, Ahmadi mengatakan penguatan ketahanan pangan dilakukan lewat pengembangan klaster bawang merah, cabai, dan padi. Intervensi teknologi seperti digital farming dan modernisasi infrastruktur pengairan diterapkan agar petani lokal naik kelas dan pasokan pasar tetap stabil.
“Menyambut momen Ramadan dan Idul Fitri (HBKN), BI sukses menjalankan program SERAMBI dengan realisasi penukaran uang mencapai Rp27,03 miliar bagi lebih dari 5.200 warga. Tak ketinggalan, kegiatan SERASI dan Safari Ramadan menjadi ajang wisata kuliner sekaligus edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah di berbagai titik masjid di Pematangsiantar,” ucapnya.
Ahmadi mebambahkan melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, perbankan, dan insan pers, Bank Indonesia berkomitmen terus mengawal pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di masa depan. (**)