Selain warga, R Purba menilai pekerjaan terkesan terburu-buru dan tidak memperhatikan kualitas bangunan tersebut.
“Keramik lama tidak dibongkar terlebih dahulu, tapi langsung ditimpa material pasir. Baroti atap juga tidak ada yang di ganti,” terang Purba.
Ia menambahkan, dugaan pengerjaan asal-asalan ini berpotensi merugikan keuangan negara meski nilai anggaran maupun volume pekerjaan belum diketahui.
“Kalau dibiarkan, bisa jadi temuan aparat penegak hukum,” tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, Debora Sigit ketika dikonfirmasi melalui telepon tidak bersedia mengangkat teleponnya, dan pesan yang dikirim juga tidak ada balasan. (Jun)









