Simalungun, armedo.co – Kualitas dan kwantitas CPO bergantung pada tingkat kematangan buah sawit saat dipanen, dan panen harus menghasilkan tandan buah segar (TBS) pada kematangan yang optimum.
Namun fakta ini berbanding terbalik di PTPN IV Balimbingan, tepatnya di Afd 2 Nagori Bah Kisat, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. Untuk pemenuhan hasil produksi, karyawan panen memeram buah sawit mentah.
Sementara diketahui, pemotongan/panen TBS yang kurang matang akan mengakibatkan berkurangnya minyak. Sedangkan TBS yang terlalu matang atau busuk akan menghasilkan FFA yang tinggi.
Pantauan di gudang pupuk Afdeling 2 PTPN IV Balimbingan, karyawan panen melakukan pengerusakan/perontokan buah sawit yang sudah diperam dari tandannya. Selanjutnya menumpuk tandan kosong diluar gudang pupuk.
Seorang pemerhati saat dimintai tanggapan, Jum’at (19/4/2024). “Panen dan pengangkutan TBS itu merupakan kegiatan yang sangat ber-pengaruh dalam penentuan mutu produk Crude Palm Oil (CPO),” katanya.
Oleh karena itu, imbuh pemerhati bermarga Purba. Karyawan panen juga diwajibkan untuk memperhatikan ancak panen, jika ancak panen dari lahan yang sedang di replanting. Wajar kualitas dan Kwantitas CPO nya diragukan, pungkasnya.(Zai)









