Simalungun, armedo.co – Camat Dolok Silau, Agusti Ginting diduga lecehkan intelektual leluhur Simalungun. Ini karena tidak melakukan pemeliharaan bangunan yang tepat dan konsisten, dan diketahui amat penting dilakukan karena sejumlah alasan.
Salah satunya, bangunan semakin lama maka akan mengalami perubahan akibat faktor cuaca. Namun faktanya, Camat Dolok Silau tidak melakukan perawatan gedung kantor. Akibatnya, Uhir (Ukiran) ornamen Simalungun yang notabene ciri khas daerah jadi buram.
Kemudian, perubahan juga terjadi karena faktor penggunaan penghuni dan keuangan peralatan. Apabila gedung tidak dipelihara, maka masalah ini dapat menurunkan nilai pengalaman pengguna dan cenderung menciptakan lingkungan yang berbahaya dan tidak sehat.
Sementara diketahui, dengan adanya pemeliharaan terhadap gedung dan ornamen yang ada. Menyelamatkan banyak nyawa, jika terjadi kondisi kedaruratan. Juga melindungi kesehatan orang orang didalamnya dan memastikan standar lingkungan terus terpenuhi.
Selain itu, pelestarian terhadap Uhir yang merupakan ornamen dan juga sebagai ciri khas daerah, telah menjadi putusan para pendahulu Simalungun. Dan merupakan marwah Simalungun yang berlandaskan azas Habonoron do bona dengan motto,”sapanganbei manoktok hitei”
Sehingga penulis meminta Bupati Simalungun, Radiapoh Hasiholan Sinaga juga sebagai orang nomor satu di Kabupaten Simalungun memberikan teguran keras kepada para Camat yang lalai melestarikan ornamen Simalungun khususnya di gedung perkantoran.
“Ornamen itu sakral, Uhir marwah etnis Simalungun. Beberapa kantor Camat yang kami lihat di Simalungun terkesan mengabaikan ornamen tersebut. Oleh karena itu, dengan tegas meminta agar etnis apapun Camatnya, diminta turut menghargai ornamen Simalungun”
Hal itu disampaikan Devisi Hukum IWARAS, Henri Dens Simarmata, Rabu (17/4/2024) menanggapi konfirmasi wartawan. “Apapun etnis Camatnya, harus menghargai ornamen etnis Simalungun. Karena Uhir Simalungun merupakan ciri khas Simalungun,” tegasnya.(LRS)









