Bagaimana pemberitaan ini di Bank Indonesia pro-growth dan pro-stability. BI Rate dipertahankan di level 6,25% untuk konsistensi pro-stability sebagai langkah preventif dan forward looking menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan inflasi nasional tetap terkendali.
Serta bagaimana kebijakan Bank Indonesia untuk pro-growth melalui pelonggaran kebijakan makroprudensial. Memastikan kecukupan likuiditas perbankan untuk mendorong penyaluran kredit kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas dan UMKM, serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran.
”Di daerah, di KPw BI Pematangsiantar, ada kebijakan sinergi terkait pengendalian inflasi dan akselerasi digitalisasi dengan seluruh Pemda (TP2DD). Mendorong inklusi keuangan melalui sistem pembayaran QRIS, kecukupan peredaran uang Rupiah, serta edukasi Cinta Bangga Paham Rupiah,” kata Ahmadi.
“Intinya, kami berharap pemberitaan dapat disampaikan secara seimbang dan mendorong optimisme masyarakat di tengah ketidakpastian ini agar tidak terjadi ketakutan. Nanti Pak Lukas (narasumber) akan menyampaikan secara literasi data dan edukasi kepada masyarakat,” sambungnya.

Diterangkan oleh Ahmadi juga, Capacity Building ini juga menjadi kesempatan memperluas wawasan di IKN sebagai kota politik tahun. Nanti bisa melihat pembangunan kilang-kilang minyak di Balikpapan dan bagaimana keberhasilan pemerintah membangun kilang sehingga kapasitas volumenya lebih besar.
“Silakan dieksplor untuk menambah wawasan di Borneo ini. Silakan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berdiskusi dengan Pak Lukas yang memiliki banyak pengalaman,” tutupnya.
Sementara itu, Lukas Hendra TM, Head of Bisnis Indonesia Learning Center, memberikan materi dengan tema yaitu Media sebagai Pivot Ekonomi Daerah. Ia menjelaskan ada 3 poin utama peran media. Pertama yaitu, Penghubung Strategis. Artinya media menjadi titik temu antara data Makro dari Bank Indonesia dengan realistas mikro di pasar pasar Pematangsiantar.
“Kedua, Penggerak Kepercayaan. Informasi yang akurat berfungsi sebagai “pelumas roda” ekonomi. Jika media salah memberikan narasi, roda ekonomi bisa terhambat oleh kepanikan atau ketidakpastian. Dan yang ketiga yaitu Katalisator Pertumbuhan. Media berperan dalam mempromosikan potensi lokal sehingga menarik minat investasi dan konsumsi,” ucap Lukas. (**)