Simalungun, Armedo.co – APH (Aparat Penegak Hukum) dinilai layak mengusut realisasi proyek aspirasi oknum anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) inisial MP di Kabupaten Simalungun. Tepatnya proyek Lapen Simpang Leto menuju Pondok Ladang, Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa. Ini karena ada dugaan telah terjadi penyimpangan dari spesifikasi teknik Lapen Macadame.
Lazimnya, permukaan yang akan dilapisi Lapen perlu dibersihkan lebih dulu dari bahan bahan organik yang dapat mengganggu ikatan antara lapen dengan perkerasan eksistingnya dan lubang lubang pada jalan harus diperbaiki dengan cara ditutupi dengan agregat bergradasi menerus dan dipadatkan. Namun faktanya tidak berbanding lurus, dan berpotensi merugikan masyarakat.
Diperparah lagi, agregat pokok yang disebarkan pada badan jalan tersebut. Bukan ukuran agregat pokok berkisar 5 cm – 7 cm. Melainkan batu kerikil pecah yang disebar ukuran 3 cm – 5 cm yang seharusnya sebagai agregat pengunci ukuran 5 cm – 7 cm. Setelah dipadatkan dengan mesin gilas roda besi berat 6-8 ton dengan kecepatan +- 3 Km/jam sebanyak minimal 6 lintasan.
Kejanggalan lainnya oleh pelaksana proyek aspirasi oknum anggota DPRD Sumut MP itu juga, tidak melakukan penyemprotan aspal cair pada agregat pokok setelah pemadatan. Akan tetapi fakta dilapangan, setelah pemadatan terhadap batu ukuran 3 cm – 5 cm oleh pelaksana menyebar batu kerikil pecah ukuran 1 cm – 2 cm. Kemudian menyiram aspal cair setelah dilakukan pemadatan.
Sebelumnya, Jum’at (3/11/2023) dilokasi kegiatan, pelaksana lapangan bermarga Silitonga mengatakan. Lapen yang sedang dikerjakan menggunakan batu kerikil pecah ukuran 5 cm – 7 cm sebagai agregat pokok, yang selanjutnya disebar batu kerikil pecah 2 cm – 3 cm sebagai agregat pengunci. Kemudian dilakukan pemadatan, selanjutnya disebarkan batu kerikil pecah ukuran 1 cm – 2 cm.
‘Sesuai dengan batu batu, itu kan memiliki jenis, 5.7 lapis bawah, setelah digilas di amprah kericak 2.3. Setelah disiram (curah ter) di amprah kericak 1.2, lalu masuk 0.5. Kemudian ditutup (di amprah) agregat pasir pada bagian atas Lapen sebagai penutup,” kata Silitonga. (Zai)







